BERITA UTAMA
09 September 2011
Tunjangan Guru Wonogiri Disunat
http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=158586
- Pemotongan Capai Rp 12 Miliar
Selama masa waktu penerimaan satu setengah tahun terakhir, telah terjadi dua kali pemotongan atau dua bulan tunjangan. Rinciannya, untuk penerimaan 2010 yang mestinya diterima 12 bulan, hanya 11 bulan atau ”hilang” satu bulan.
Untuk penerimaan semester pertama 2011, yang mestinya berjumlah enam bulan, hanya dibayarkan lima bulan.
Padahal untuk penerimaan 2010 bagi para guru bersertifikasi angkatan 2009, masing-masing guru memberikan tanda tangan penerimaan penuh 12 bulan.
”Tapi kenyataannya kami hanya menerima 11 bulan,” tutur Ningsih, guru SMA di Wonogiri kota.
Kasus pemotongan tunjangan sertifikasi ini terulang lagi pada penerimaan semester pertama 2011. Meski para guru menandatangani penerimaan tunjangan enam bulan, realisasi pembayarannya hanya lima bulan.
Para guru mengaku, mereka diminta menandatangni lebih dulu persyaratan administrasi penerimaan dengan alasan untuk kelengkapan percepatan pencairan. Pembayaran uang tunjangan ini dilakukan langsung ke rekening masing-masing para guru.
Kasus penyunatan tunjangan sertifikasi ini antara lain diketahui oleh Cahyo, Haryono, Narsi, dan Slamet, yaitu para guru SMP, SMA, dan SMK di Kecamatan Wonogiri Kota saat mereka mengecek buku rekening masing-masing.
Saat mereka menanyakan ke petugas bank, diperoleh jawaban bahwa memang hanya sejumlah itu uang yang ditransfer.
Para guru menduga ada kekuatan besar yang ikut terlibat dalam pemotongan tunjangan sertifikasi ini. Sebab jika diakumulasi, jumlah dana yang disunat sangat besar.
Di Wonogiri ada sekitar 3.000 guru yang telah bersertifikasi. Bila tunjangan sertifikasi mereka per bulan rata-rata Rp 2 juta, maka total uang yang disunat mencapai 3.000 guru x 2 juta x 2 bulan atau Rp 12 miliar.
Para guru resah dan bingung tidak tahu harus mengadu ke mana. ”Ketika ditanyakan ke petugas bank, dijawab memang hanya sejumlah itu uang yang ditransfer,” keluh para guru.
Mereka takut menanyakan ke Dinas Pendidikan karena uang tunjangan sertifikasi langsung ditransfer ke rekening masing-masing guru.
Anggaran Kurang
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Drs Suparno MPd didampingi Sekretaris Disdik setempat Soesetiyo SH MM, mengatakan, pihaknya belum menerima laporan tentang dugaan penyunatan uang tunjangan sertifikasi guru. ”Coba akan kami cek,” tegas Suparno.
Soesetiyo menambahkan, uang tunjangan sertifikasi guru mestinya diterima sesuai jumlah gaji bulanan. Artinya, setahun harus mencapai 12 bulan, bukan 11 bulan. Demikian halnya untuk periode satu semester, jumlahnya 6 bulan, bukan 5 bulan.
Soesetiyo menduga, bisa jadi kekurangan satu bulan itu karena ketersediaan anggaran yang terbatas. Kalau alokasi anggaran kurang, bisa saja terpaksa itu dikurangi.
Dengan catatan, kekurangan akan segera dibayarkan pada pencairan berikutnya setelah ada tambahan anggaran.
”Kita tidak boleh main-main dengan uang tunjangan sertifikasi guru,” tegas Soesetiyo.
Kepala dan Sekretaris Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD), Drs Teguh MM dan Drs Pranowo MM, menyatakan, pihaknya belum menerima laporan soal kekurangan pembayaran uang tunjangan sertifikasi guru, apalagi tentang dugaan penyunatan.
Keduanya menyebutkan, tunjangan sertifikasi guru sebagian ada yang ditangani oleh Pemprov Jateng dan sebagian lagi lewat APBD Wonogiri.
”Pembayaran tunjangan yang dikeluhkan kurang itu yang bersumber dari Pemprov atau Pemkab?” tanya Teguh
China - iPhone 5 keluaran Apple belum beredar. Tapi di China sudah beredar hiPhone 5.
Apple kalah cepat. Yang sekarang beredar tentang produk iPhone terbaru masih sebatas desas-desus rumornya saja. Barangnya belum ada.
Tapi China sudah punya. iPhone 5 buatan China itu tentu tiruan. Dijual dengan harga 200 yuan atau setara dengan Rp267.000, ponsel bernama hiPhone itu dijual di situs e-commerce Taobao, platform yang dinaungi Alibaba.
Entah apa yang dipikirkan oleh pembuat hiPhone ini, tapi seperti dikutip dari Reuters, produk tiruan itu dibuat mirip gambar-gambar iPhone 5 yang beredar di internet, yakni berbodi lebih tipis, tapi sangat ringan seperti mainan ponsel plastik.
Selain hiPhone Rp267.000 itu, tersedia versi ‘yang lebih asli’ seharga Rp1 juta. Pramuniaga toko yang menjual produk itu bisa menjelaskan perbedaan antara tiruan iPhone 5 dengan tiruan iPhone 5 yang lebih asli. Walau ‘lebih asli’, tapi tetap saja sama-sama palsu.
hahah, walau 'tiruan' tetep namanya iPhone,
silahkan coba gan,..
Featured Video

